8daAbdul Basyir adalah seorang pemuda yang terlahir dari belahan selatan kabupaten Banyuwangi. Mahasiswa yang hobi main bandminton ini memulai dunia pendidikannya dengan masuk TK. Khodijah pada umur 5 tahun. Usia itu mungkin terlambat karena kenyataanya diangkatan kuliahnya, ia termasuk yang sudah tua, seharusnya masuk satu angkatan sebelumnya. Setelah berada di TK tersebut selama dua tahun, dia meneruskan ke MI Al-Huda yang terletak tidak jauh dari TK-nya, mungkin sekitar 1-1.5 m lah jarak gedungnya.

Tiga tahun Sekolah menengah ia habiskan di Madrasa Tsanawiyah Negeri Cluring Banyuwangi. Yang menarik di MTs N ini adalah pertemuannya dengan sang pujaan hati untuk pertama kalinya. :) . Disini juga pertama ia mengenal bahasa asli Banyuwangi, Osing, karena sebagian besar teman-temannya berasal dari Cluring, Benculuk, dan sekitarnya yang banyak menggunakan bahasa Osing. Sampai sekarang ia bisa mengerti kalau ada orang ngomong, tapi untuk menirukan logat native Osingnya, luar biasa sulit bagi dia. Bahasa bisa ia ucapkan, tapi lagunya, tambah kelihatan aneh.

Tingkat selanjutnya, ia mengambil sekolah umum, SMAN Gambiran, bukan Madrasah Aliyah yang merupakan kelanjutan dari MTs yang tetap memperbanyak pengetahuan agama. Alasannya sederhana, karena dia menginginkan situasi dan kondisi yang lebih kompetitif. Hal ini sudah rahasia umum mungkin bila sekolah-sekolah yang membawa nama agama Islam malah tidak diperhatikan oleh pemerintah, artinya kebanyakan swasta dan seadanya. Sehingga paradigma yang ada di masyarakat, SMA itu prioritas I dan kalau tidak diterima di SMA yang bagus, baru larinya ke MA atau MTs untuk tingkat SMP. Pengalaman sewaktu di MTs membuat dia berkesimpulan bahwa sekolah dia menjadi prioritas ke sekian kalinya untuk kebanyakan siswa yang mendaftar waktu itu, walau pertimbangan dia saat untuk menyeimbangkan ilmu agama dan umum.

Yang menarik dari masa ini ialah manuvernya dari individu yang tertutup dan tidak percaya diri serta diperparah dengan trauma yang mendalam, menjadi sosok yang petualang, pembelajar, dan berkemauan keras. Berbagai masalah dengan guru pernah yang ia terima itu tidak membuatnya jatuh, malah membuat dia semakin tegak berdiri untuk mencari jati dirinya. Masa SMA ini merupakan masa ia mulai punya teman, konsultasi dengan guru, serta sempat membuat geger beberapa teman wanitanya dengan sikap yang senang menggoda. :P . Berbagai kesenian sempat ia ikuti untuk melatih kepercayaan dirinya seperti drama, band, dan olah raga. Beruntung sekali kala itu ia memiliki lingkungan yang mendukung dia untuk berkembang.

Diperguruan tinggi, ia memilih Teknik Industri ITS karena ia berpikir bahwa itu jurusan yang keren. Kurang rasional memang, tapi memang begitulah adanya. Empat tahun di ITS memberikan wanra yang beragam terhadap perjalanan hidupnya. Yang paling luar biasa menurutnya adalah saat ia mendapat kesempatan pergi ke University of Arizona selama dua bulan untuk belajar bahasa inggris serta travelling within the state. Ia juga pernah memenangkan kompetisi mahasiswa berprestasi tingkat jurusan tahun 2008. Untuk tugas akhirnya, ia memilih topik yang jarang diminati, yaitu managemen strategi. Mungkin karena topik ini sangat terkesan kualitatif dan bisa dikarang sehingga sangat sulit mendapat nilai maksimal. Pengemasan yang luar biasa harus dilakukan agar TA tidak terkesan nggacor dan tidak berbobot. Ia mengambil studi kasus di klaster industri komponen otomotif di Ngingas Waru Sidoarjo.

To be Continue…