Salam sobat petualang……………………………..

Sedikit berbagi pengalaman petualangan dua pantai di daerah Banyuwangi.

Kalau mencari suasana pantai yang masih asri dan alami, pantai Sukamade mungkin menjadi salah satu alternatif untuk dikunjungi. Pantai yang terletak dikawasan taman nasional Meru Betiri ini termasuk dalam deretan pantai selatan sehingga tidak heran bila ombaknya sering menggila. Sangat berbahaya untuk berenang karena ombaknya tinggi.

Karena  penasaran dengan kealamian Sukamade, akhirnya saya dan lima orang teman dari ITS yang  kebetulan main ke Banyuwangi memutuskan untuk mengunjungi  pantai yang terkenal masih alami dan banyak  terdapat beberapa jenis kera. Sukamade ini merupakan tujuan pertama dari petualangan yang akan kami laksanakan. Dengan berbekal nama dan tanya penduduk sekitar, kami memulai perjalanan kesana. Bismillah perjalanan panjang kami mulai

Detik demi detik, menit demi menit, sampai jam demi jam kami lampaui. Lho, kok belum juga nyampe ya? “Mungkin setelah gunung didepan ini nyampe” kalimatku yang ku gunakan untuk memberikan hawa sejuk dihati teman-teman. Haha. Setelah melewati perkebunan kokoa, ada pertigaan di awal perkampungan. Wah, perasaan lemah bagaikan berangkat kesekolah terus harus balik lagi karena tugas tertinggal, disitu tertulis dengan jelas dan tegas bagai ketokan hakim pengadilan bahwa Pantai Sukamade 27 Km.

Perjalanan

Perjalanan

Dengan sabar dan berharap bahwa tulisan tersebut agak sedikit lebai alias tidak benar, meter demi meter kita lampaui dan kita nyampe di pos pintu gerbang hutan lindung di Rajek Wesi. Mampir bentar dan Tanya-tanya pada polisi hutan. Ternyata kita sudah sampai di Pantai Rajek Wesi.  Dan konon kalau mau meneruskan ke Panti tujuan, Sukamade, harus meniti jalan berbatu sejauh 18 Km lagi. Gobrak…! Tapi, jiwa petualang ini yang mendorong rasa penasaran untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Bapak polisi hutan ternyata tidak bohong, jalan berbatu itu memaksa aku dan dua yang lain untuk turun dari motor karena kasihan motor kalau dibuat boncengan. Jalan tidak jelek lagi, tapi berbatu, dan menanjak pek, huhuhuhuhuhuhuuuu. Ternyata itu bukit yang masih asri, karena banyak terdapat monyet, kurang tahu jenis apa, yang pasti warna hitam, ada juga yang abu-abu. Kita jalan dengan ditemani monyet-monyet. Hahahhaaa. Seru pol tapi.

Pak Polisi Hutan

Ni situasi perjalanan di atas bukit berbatu..

Selama melewati bukit berbatu itu, ada beberapa pemandangan yang sebenarnya bisa kita nikmati, tapi berhubung waktu yang membatasi, sehingga memaksa kita meneruskan petualangan ini. Pemandangan yang terlihat pertama adalah ada Goa Jepang, dan Bunga Raflesia Arnoldi atau yang dikenal dengan Bungan Bangkai. Tapi kita diharuskan belok dari jalan utama sejauh 700 meter. Males ah. Misi utama belum kelar ni. View kedua adalah tebing sepanjang pantai yang menghubungkan pantai rajek wesi dengan sukamade.

Masih di seputar bukit, ada pemandangan yang tidak kalah menarik, yaitu TELUK IJO. Disebut demikian karena memang teluk ini berwarna hijau airnya. Mungkin karena ganggang yang hidup ini memberikan pigment hijau. Tapi sekali lagi kita hanya bisa menyaksikan dari jauh, karena harus turun jauh bila ingin kesana. Foto jarah jauh menjadi pengganti hasrat hati untuk menggapai teluk ijo.

Setelah keluar dari bukit berbatu itu, kita menemukan perkampungan kecil, yang dihuni mungkin tidak lebih dari 20 rumah,  tapi sudah dimasuki listrik. Mereka mengatakan kita hampir sampai, tinggal 2,5 kilo lah. Perjalanan sedikit menjadi obat jalan berbatu, karena jalan tanah lebih baik walau sedikit terdapat lobangan yang berisi air. Kita juga harus menyebrangi sungai karena jembatan masih diperbaiki. Jajajajjaja.. komplit lah semua jenis jalan telah kita lampaui dalam perjalanan ini.

Tiba saatnya yang membahagiakan dan melegakan hati. Selamat datang di kawasan pantai Sukamade telah menyambut dahaga kita. Memang benar-benar masih perawan kawasan ini. Sepanjang mata memandang, tidak ada orang jualan disini, yang ada hanya mushola, pos jaga, dan beberapa kamar penginapan bagi yang mau bermalam. Oya,  disebelah utara juga ada beberapa kamar mandi kecil. Sesampai disana kami langsung lapor pada bapak penjaga. Kami juga ditunjukkan tempat budidaya penyu. Konon, disini juga merupakan daerah konservasi penyu. Tapi sayang, saat itu tidak ada penyu yang mau dilepas karena belum lama telah ada acara pelepasan besar-besaran.

Foto Bareng

Sesudah sholat dhuhur dan Ashar, waktu tidak disia-siakan untuk menatap wajah yang sudah kami nanti selama perjalanan. Seperti apa pantai Sukamade itu. Dari tempat pemberhentian itu, kearah pantai dilalui dengan jalan kaki sejauh 700 m. Tidak lama, suara gemuruh ombak pantai sudah terdengar. Merinding terus terang mendengar suara itu, karena kelihatannya sangat besar ombaknya. Jadi teringat tsunami or something yang sangat mematikan.

Tidak heran karena sukamade ini masuk deretan pantai selatan. Pertama masuk, deretan pasir putih yang luas bagaikan padang pasir yang tak berpenghuni menyambut, seakan memberitahu kami untuk menjaga keasrian dan keindahan pantai yang belum tercemari. Disepanjang pantai tidak ada orang sama sekali kecuali seorang pemancing yang sedang sibuk ria dengan aktivitasnya. Heran juga sebenarnya, dia mancing ikan apa gitu? Lawong ombak e lo guide pol. Kanan kiri bibir pantai dihiasi denngan tebing yang mempesona, sedangkan di tengah ada juga dua tebing kecil yang menambah erotisnya pantai Sukamade.

saatnya narsis

Setelah puas bermain-main di sana, kamipun pulang dan bersiap untuk menempuh perjalanan yang penuh dengan perjuangan, halah lebai. Setelah 1 jam lebih sedikit, kita sudah sampai Pantai Rajek Wesi lagi, pos pertama yang kita singgahi. Kesempatan ini tidak juga disia-siakan, semua sepeda langsung diparkir dan turun ke Pantai Rajek Wesi yang juga lumayan bagus. Di banding Sukamade, mungkin ombak disini lebih kecil, dan pasirnya tidak putih.

Terakhir, untuk teman-teman petualang yang tertantang untuk menjelajahi SUkamade, lebih baik menginap saja. Karena kata bapak penjaga, penyu-penyu pada keluar dari laut untuk bertelur hanya pada malam hari, jadi kita bisa menyaksikannya. Kelengkapan yang perlu dibawa bahan makanan aja, karena disana sudah ada penginapan. Kalau mau berkemah juga oke. Tapi kalau cari makanan, wah.. jauh banget, harus bersepeda sejauh 3 Km.