Sumber: detik.com

Sumber: detik.com

Minggu, 11 Oktober menambah cerita tentang adrenalin. Bagaimana tidak, hari senin jam 7.30 pagi sudah harus di pulogadung untuk mengikuti interview di salah satu perusahaan BUMN. Sabtu sebelumnya, sehabis wisuda belum sempat beli tiket. Kata teman sih untuk kelas bisnis ‘wes entek sampek senin baru ono’. Walah, akhirnya terpaksa ambil minggu pagi yaitu Argo anggrek. Kantong siap-siap terogoh dalam sampai 300 ribuan ini.

Malam minggu benar-benar tidak tenang, perasaan sangat khawatir kalau-kalau tiketnya habis juga. Secara sabtu dan minggu kan musimnya wisuda di sby, termasuk diriku yang baru wisuda sabtu tanggal 10 Okt. Malam itu aku bangun mungkin sampai 6 kali, lihat jam masih belum juga subuh. Pada kebangunanku yang ke-7 paling, wes subuh. Alhamdulillah…

Jam 5.35 pagi aku minta tolong teman untuk diantar ke stasiun pasar turi Surabaya untuk beli tiket karena takut kehabisan. Ketika masuk loket, tanya mbaknya:”Mbak, tiket anggrek masih ada gak?” mbaknya menjawab dengan pertanyaan juga:” Untuk kapan mas?”. “Pagi ini mbak.” jawabku. “Masih mas, pesan berapa?”. “Satu aja mbak, berapa mbak harganya?”. Dalam hati berdo’a, Ojo mahal-mahal Ya Allah.. yang penting dibawah 300 ribu. Secara, uang di dompet cuma ada 400 ribu. Mbaknya kemudian menjawab, “Tiga Ratus Empat Puluh Ribu(340.000)”. Dengan pikiran dengas dengis aku membayar tanpa menunjukkan kekecewaanlah. :( walaupun sesungguhnya dalam hati ingin berkata, Cek larange rek…..!!! Akhirnya aku pinjam temanku uang tambahan 50 ribu, sehingga uang dikantong masih 110 ribu, cukuplah untuk naik angkot ketika tiba di Jakarta nanti.

Jam 8.00 yang dinanti-nantipun telah tiba, dan aku langsung masuk gerbong 7 dengan nomor kursi 8B. Tempat duduk yang nyaman dibanding kelas bisnis itu tidak kusia-siakan, lagnsung tidur karena memang badan sangat lelah. Kulihat disampingku orang agak diam, yowes lah, aku yo meneng pisan. Perjalanan sangat nyaman saat itu, suatu ketika ada petugas membangunkanku dan menawari aku makanan uenak sajak’ane. “Makan mas?” kata masnya. Aku sambut dengan pertanyaan juga: “Gratis ya mas (sambil ngantuk ngono). Hahahaha..mas nya langsung mak pencureng… Aku pura-pura tidur lagi tanpa rasa bersalah. LOL.

Sejengkal kemudian, kira-kira satu jam setelah bertolak dari stasiun Tawang – Semarang, terlihat pemandangan laut disamping kanan. Wah sayang rek, aku ndak bawa kamera, batinku. Tiba terdengar, klotak, greg-grek-grek, dak, der, dong, dan seterusnya, di ikuti kepulang asap putih tulang di kanan kiri jendela. Penumpang di depanku langsung panik dan mengambil tasnya yang dia simpan di bagasi atas. Aku sempat ngrasa mak nyerrrr dalam hati. Tidak lama kereta berhenti karena memang saat itu jalannya pelan sekali. Wah hasil gerbong depanku ternyata Anjlok. Satu roda kanan dan kirinya keluar dari rel. Wah, bakalan lama iki. Waktu saat itu menunjukkan jam 13.45an lah. Pikiran mulai dihantui terlambat datang ketika sudah satu jam pun, belum ada tanda-tanda yang jelas mengenai penumpang mau di kemana’in.

Baru sekitar pukul 16.00 tim penolong dari Stasiun Pekalongan tiba untuk mengevakuasi Gerbong. Sementara murmure yang beredar penumpang akan di tarik lagi ke semarang dan dilewatkan jalur selatan. Wadoh,,.. jam piro teko jakarta ini rek. Jam stengah 6 (5.30 sore) baru berhasil mengangkat kereta yang anjlok. Setelah beberapa proses wira-wiri kayak setrika, jam 7.30 an, kereta melaju lagi meneruskan perjalanan. Dan…Jam berapa aku nyampe Jakarta, jam 2 dini hari. Hahahahahah…Aku berniat tidur di stasiun Gambir saja waktu itu. Aku masuk ke lantai 2 dan mencari tempat duduk kosong. Banyak terlihat penumpang yang juga menginap saat itu.

Aku iseng menyalakan hp ku yang sudah lowbatt, dan ternyata ada sms dari Singgih, teman yang rencana aku tumpangi nginap. Tak lihat jamnya ternyata jam 2.10. Alhamdulillah…berarti dia masih bangun. Aku akhirnya naik taksi dan nyampe jam 3 an pagi. Alhamdulillah… Semua ini atas izin Allah. Interview yang penuh dengan cerita juga. Tapi alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik.