Tiga Hari Saja Rabu, Sep 30 2009 

Hari pertama.

Hari kemarin,
Kita tidak akan bisa mengubah apapun yang telah terjadi
Kita tidak bisa menarik kembali perkataan yang telah Kita ucapkan
Kita tidak bisa menghapus kesalahan yang Kita perbuat
Kita tidak bisa mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin
So,, Biarkan hari kemarin lewat, lepas…………………………………………..

Hari kedua.

Hari esok,
Sampai menteri terbit esok hari
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi
Kita tidak bisa melakukan apa-apa esok hari
(lagi…)

Pengalaman Interview User Pertama Rabu, Sep 16 2009 

Senin, tanggal 14 September 2009 merupakan hari dimana saya menghadapi interview sebuah perusahaan pertambangan di Indonesia. Walaupun itu yang pertama dalam sejarah hidupku, semua terasa begitu biasa saja, artinya tanpa banyak pikir mengenai apa yang akan di katakan saat wawancara. Semua itu dapat kurasakan karena aku sadar bahwa kalau interview itu cuma pingin mengerti kesesuaian job yang ada di perusahaan dengan kompetensi kita. Jadi mengapa harus dipikir secara berlebihan.

Ada dua hal yang menurut saya mengganggu suksesnya wawancara saya. Hal pertama yang menurut saya salah dalam event itu adalah bagaimana menceritakan pengalaman kita. Seorang interviewer pasti akan membuat decision sesuai dengan cerita kita. Sebagai contoh, saya kemaren melamar dibagian engineer atau bagian yang berhubungan dengan perencanaan projek perusahaan. Tapi dalam wawancara aku malah menceritakan banyak mengenai kegiatan-kegiatan di organisasi dan saat menjadi supervisor di salah satu beasiswa. Sehingga kalau dicocokkan, sangat berlawanan dengan posisi engineer yang nantinya sangat akrab dengan data-data, sedikit bertemu dengan orang alias selalu didepan komputer untuk ngotak ngatik data dan membuat laporan. Kesimpulan dari cerita-ceritaka malah semakin menunjukkan bahwa aku lebih cocok kalau di bagian HRD atau yang banyak berhubungan dengan orang, mengurus training, mengukur kinerja, dll.

Sebenarnya masalah data-data itu bukan masalah bagiku, mengapa? karena sejak SMP dan SMA nilai-nilai kuantitatifku bisa dibilang bagus. Waktu di kuliahpun nilai Kalkulus, FIsika Dasar, Statistik Industri, dan yang berhubungan dengan hitung-hitungngan paling jelek AB. Tapi mungkin karena di TI aku lebih fokus dan menyenangi bidang-bidang management, seperti Man Strategi, Man. Performansi, Man. Jasa, Man. SDM, dll. Belum lagi pengalaman-pengalaman di organisasi yang malah memperkuat kemampuan managemen dan leadership. Bisa dibilang apa yang saya ceritakan sangat dipengaruhi aktivitas akhir-akhir tersebut. Sehingga kesimpulan menunjukkan bahwa aku kurang cocok di bagian yang saya mau lamar ini. Mungkin sebaiknya dalam cerita, kita harus memperhatikan posisi yang mau kita lamar, atau malah menyeimbangkan kemampuan kita di dua bidang tersebut. Shingga akan lebih aman untuk diterima di perusahaan. Saya kemaren di tanya, kamu kalau bermain dengan mengolah data sama mengorganisir orang-orang, senang yang mana? Aku jawab senang mengorganisir orang, walaupun sebenarnya kemampuan keduanya tidak terlalu signifikan perbedaannya dalam diriku. Tapi saya harus memilih.

Hal kedua yang sempat menjadi senjata makan tuan bagiku adalah saat diminta mengisi cita-cita dimasa mendatang. Aku kemaren isi akan kerja selama 7 tahun, kemudian ingin berwirausaha dibidang yang saya sudah rencanakan sebelumnya. Terus, waktu sesi wawancara kemaren Paknya mengatakan seperti ini. “Setiap perusahaan pasti menginginkan karyawan untuk selamanya, bukan untuk beberapa tahun. Karena perusahaan mungkin telah menghabiskan banyak dana untuk training mereka, dan setelah lima tahun atau lebih, mereka sudah mulai lihai alias banyak pengalaman. Jadi kalau keluar akan sangat dihindari peruhasaan. Walaupun kenyataan dilapangan banyak yang keluar setelah satu tahun atau dua tahun pertama, terutama para kaum muda. Tentu saja aku terperanjak kaget dengan kata-kata bapaknya. Tapi, untuk menutupi kesalahanku waktu itu, aku sangat antusias untuk mendengarkan bapaknya menerangkan fakta tersebut. Hehe,..

Untuk mengisi waktu kosong, aku lantas menerangkan latar belakang mengapa saya merencanakan untuk tidak berlama-lama di sana. Katanya kalau bujang sih oke-oke saja. Akan tetapi nanti kalau sudah berkeluarga akan lain ceritanya. Anak dan istri tidak hanya butuh uang, tapi lebih dari itu adalah kasih sayang dan kehadiran sosok seorang ayah yang akan mempengaruhi perkembangan hidup sang anak. Kemudian aku membalikkan fakta itu ke Bapaknya dengan bertanya, Kalau pengalaman bapak gimana dengan masalah keluarga karena kerja di pertambangan yang jauh dari mereka? Bapaknya lantas menjawab dengan enteng, Lawong saya dinasnya di Jakarta ko mas, jadi tidak bisa merasakan pengalaman tersebut. Terus terang bapaknya menjelaskan bahwa masalah mau bawa keluarga atau meninggalkan itu pilihan. Kalau mau membawa keluarganya, resiko yang akan dihadapi adalah kalau anak telah masuk SMP atau SMA. Kualitas pendidikan disana sangat jauh dengan pendidikan di Jawa. Jadi semua itu dikembalikan pada pribadinya masing-masing. Kenyataan itu membuatku merasa peluangku semakin kecil untuk diterima karena dari awal sudah menstate akan bekerja selama paling lama 7 tahun. Jadi mungkin sebaiknya masalah tersebut dirahasiakan aja ya, karena itu sangat sensitif kayanya.

Yang paling mengejutkan di akhir cerita bapaknya menyatakan statemen yang tidak sebelumnya kuperkirakan. Dia bilang katanya, Menurut saya pribadi ya mas, dengan melihat prestasi anda, kemudian potensi anda, sebaiknya anda ambil S2 saja. Terus menjadi dosen. Fakta sekarang jadi dosen itu secara finansial lumayan. Belum lagi kalau mendapatkan proyek-proyek yang tentu saja sangat basah alias banyak uangnya. Eman kalau harus bekerja lah intinya. Tapi aku selalu mengatakan kepada bapaknya bahwa aku sudah ambil keputusan, dan keputusannya adalah mau bekerja. Tapi, keluar dari situ terus terang aku mulai gusar dengan pernyataan tadi. Tuing, tuing, tuing,.. Berpikir keras sampai sekarang, apakah langkah saya ini sudah tepat?

Demikian yang dapat saya bagi infonya mengenai pengalaman interview, semoga dapat diambil manfaatnya.

Terima Kasih

Alhamdulillah Allah Memberiku Kesempatan dapat Beasiswa IELSP Senin, Sep 14 2009 

Setelah sholat ashar di Musholla dekat kos, saya langsung melihat handphone saya yang tertulis 1 misscall. Terlihat yang menghubungi saya adalah nomor jakarka. Waah. Perasaan bertanya-tanya semakin besar karena saya juga lagi menunggu dua jawaban dari institusi di Jakarta. Tidak buang-buang waktu saya menelpon balik nomor tersebut karena kebetulan saat itu lagi ada pulsa telpon,biasanya ngisi cuma pulsa sms. Ternyata tersambung dengan IIEF, Indonesian International Education Foundation,. Saya tidak bisa tersambung karena operatornya berkata semua officernya sedang melayani yang lain. Saya diminta menunggu besok karena kebetulan hari sudah menunjukkan jam 4 sore.

Keesokan harinya saya sudah ada agenda untuk mencari rumah kontrakan baru karena yang sekarang sudah dalam masa tenggang. Saat memulai perjalanan rupanya ada nomor jakarta lagi yang menguhubungi saya dan ternyata benar seperti yang saya perkirakan dari IIEF. Mbaknya yang memperkenalkan diri dengan nama Rathma Soma dari IIEF memberika kabar gemmbira kepada saya bahwa saya diterima sebagai peserta beasiswa IELSP yang akan berangkat januari 2009. Alhamdulillah akhirnya Allah mengabulkan doa yang selalu kupanjatkan untuk memberikan yang terbaik.Seketika itu perhatian langsung terpaku pada persiapan yang harus dilengkapi untuk mendapatkan visa amerika dengan segera. Mbak Rathma mengatakan bahwa perlu waktu yang lama untuk mendapatkan visa, sehingga secepat mungkin harus cepat mengurus mulai dari passport, KK, medical check up, MMR, dan masih banyak yang lain.

Sekarang lagi menunggu proses visa interview yang akan dilaksanakan tanggal 16 Oktober mendatang. Teringat saat pertama saya memutuskan untuyk mendaftar IELSP penuh dengan kebimbangan dan Optimis. Tapi saya kira itu lah salah satu nikmatnya kehidupan yang diberikan Allah Swt. Manusia diberikan apa yang disebut Uncertainty atau seuatu ketidakpastian dalam kehidupan mereka. Nasib dimasa depan, jodoh, dan kematian merupakan beberapa contoh yang dapat dikatagorika sebagai uncertainty. Bayangkan bila semua telah ditetapkan dan telah jelas, maka tiada kenikmatan yang akan kita rasakan. Salah satu janji Allah adalah memberikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Begini ceritanya:

Saat membaca salah satu dari 25 mailing list yang saya ikuti, ada pengumuman beasiswa kursus singkat selama dua bulan di amerika. Program diperuntukan untuk mahasiswa yang aktif semester 5 keatas dan punya kegiatan ekstrakurikular. Saya langsung tertarik dengan tawaran beasiswa tersebut. IELSP adalah nama beasiswa tersebut. Saya cuma berfikir bahwa lumayan sekali bagi seorang yang datang dari desa bila dapat kesempatan untuk pergi ke negeri paman sam tersebut. Perasaan optimis seakan semakin nyata bahwa saya akan lulus seleksi berkas dari beasiswa ini. Tidak buang-buang waktu saya langsung mendowload form dan FAQ(frequenly questions answers). Kesan pertama langsung wahh! Kok formnya banyak sekali. Kurang lebih 10 halaman dengan terakhir harus melampirkan lembar rekomendasi dari dosen.

Saya mengajak dua teman saya dari teknik kimia untuk sama-sama mendaftar beasiswa IELSP ini. Mereka adalah teman sesama penerima BeastudiEtos Sahkundiyar(Mas Sahkun ayo ikut lagi untuk cohort 6) dan Eko Frastiawan(Hello Dek Eko, perjuangan belum berakhir untuk meningkatkan kualitas dengan sennatiasa belajar), mantan Presiden saya ketika diamanahi sebagai kepala departemen Pendidikan dan Kesejahteraan Mahasiswa (DIKESMA) di BEM FTI ITS Surabaya. Kami sama-sama berjuang keras dalam mengisi form tersebut dan tidak sungkan-sungkan melihat apa isi karangan yang harus disertakan untuk kelengkapan form. Untuk masalah toefl mungkin saya yang sudah mengikuti Toefl ITP, sedangkan dua teman saya menggunakan nilai yang diperoleh dari tes Toefl yang dihasilkan saat mengikuti tes Mahasiswa berprestasi tingkat institut 2008. Nilai toefl yang diizinkan untuk mengikuti beasiswa IELSP minimal 450 atau skor lain yang setara.

Perasaan bingung sempat hinggap di hati kami karena program ini kan untuk les bahasa inggris, trus yang dipilih itu yang sudah pandai dan fasih bahasa inggris, atau yang masih blekak-bekuk ya? Pertanyaan ini sempat saya tanyakan pada waktu tes wawancara. Dan mbak Ika pada saat itu yang mewawancarai saya mengatakan ada banyak kriteria yang akan dipertimbangkan dalam pemilihan calon peserta iELSP, bukan hanya dari sisi bahasa inggris saja, tapi kegiatan extrakurikulum seperti engalaman organisasi berperan banyak disini.

Wawancara dilaksanakan di Job Placement Centre Kampus B Unair Surabaya. Saat itu saya bersama satu orang yang sama-sama menjadi peserta Sampoerna Best Student Visit 2008. Dia adalah Yose yang dijuluki Carla karena rambutnya yang mirip dengan Carla gadis kecil yang main di Komedi Suami-Suami yang Takut Isteri. Mbak Carla masih daftar lagi kan yang cohort 6? Ayo semangat untuk menyusul diriku.

Kemudian untuk surat rekomendasi, saya berencana meminta surat tersebut pada Kajur Teknik Industri Bu Sri Gunani Partiwi dan Pak PD III FTI Bapak Wiratno Argo Asmoro, walaupun nyatanya Cuma dapat satu dari Kajur. Terima Kasih Bu Sri atas surat rekomendasinya. Surat rekomendasi ini sangat penting untuk menentukan apakah benar applicant itu akan diterima atau tidak dalam seleksi berkas. Untuk teman2 yang mau mendaftar usahakan mencari perekomendasi yang pandai dalam mempromosikan (bukan mengada-ngada) anak didiknya. Usahakan perekomendasi telah tahu banyak mengenai diri teman2 sehingga akan lebih sangar surat rekomendasinya.

Setelah tes wawancara berlalu sekitar 2 minggu, Alhamdulillah saya diterima untuk belajar di Arizona USA. Insya4JJ1 akan berangkat januari 11th 2009. Sejauh ini hanya mempersiapkan segala sesuatunya termask siap2 menerima secondary inspection saat di USA karena namaku Abdul Basyir, teroris banget tuh. Tapi semoga tidak memakan waktu yang lama dan tidak mengalami itu. Saya di amanahi sebagai koordinator untuk Arizona January Bacth. Mungkin dari alumni arizona bersedia memberikan informasinya apa yang harus dipersiapkan dan yang rawan ketinggalan, sehingga tim Arizona nanti akan berjalan dengan maksimal.

Untuk teman2 silahkan mendaftar cohort 7 karena pendaftaran dibuka paling lambat 10 Nopember 2009.

Kesempatan Studi English ke US lewat IELSP Kamis, Sep 10 2009 

Teman-teman ini saya forward informasi mengenai Beasiswa IELSP,
Semoga bermanfaat,

Untuk Form dan FAQ bisa di download di page download,

Trims

Setelah sukses dengan Batch 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 sebelumnya, kami ingin menyampaikan lagi informasi beasiswa Indonesia English Language Study Program (IELSP) untuk belajar Bahasa Inggris (English for Academic Purposes) dalam program immersion dalam kelas-kelas internasional selama 8 minggu di universitas ternama di Amerika Serikat. Program ini diperuntukkan bagi mahasiswa S1 (masih aktif – belum sidang kelulusan) dari berbagai jurusan dari universitas manapun di seluruh Indonesia .

Kami mohon bantuan teman-teman alumni IELSP sekalian untuk dapat menyebarkan informasi ini kepada para adik kelas dan teman-teman karena beasiswa ini sangat memberikan pengalaman yang berharga bagi para mahasiswa kita. Informasi lengkap dapat dilihat pada info dibawah ini, dan kami sertakan pula formulir pendaftaran dalam bentuk attachment, FAQ dan Poster. Formulir ini boleh difotokopi

Terima kasih,

Indonesian International Education Foundation (IIEF)

My Wonderful Experience In USA Kamis, Sep 10 2009 

What did I gain personality-wise?

Vietnam war, Afghanistan war, and finally Iraq war which is still exist until now may become the impression of all people in the world about US. The United Stated government often expands and gets involve in other country’s problem. Those were my perceptions before I went to Arizona. I only knew little thing about US society from media such as television and newspaper. I thought that the best and most hospitable society is Indonesian. However, as I had been living in Tucson longer and longer, I started to know what US societies really are.

Like a high block of ice which is located below the sun, my negative perception about US societies is melting particle by particle and cube by cube. All evidences that I found in the real life showed something different. It was amazing to live here. The way US societies made me unable to say anything. I knew that they have been become educated and modern civilization in the world. Society life, learning method, health, environment, and disability issues have been well organized.

I will show you my personality-wise by telling you the facts that changed my mind. First of all, I would like to talk about the US society life. The city arrangement was very well planned. Furthermore, US societies are very friendly, kind, hospitable, and easy to talk with. Sometimes I felt guilty when I was standing in edge of road because suddenly the car in front of me will stop and the driver asked me to cross the street. Wow, Pedestrians have high position and people respect them. Pedestrian is better because they don’t produce air pollutants, far from perception that pedestrian is identical with poor or destitute. Moreover, they always appreciate everything and they show their appreciation by saying that’s cool, I like your name, nice school, great job, and some words that can make us feel good. This is trivial, but I believe that it will positively influence our physiology. Those are positive words and we have to learn from them.

Learning method is also different from the culture in my university. I really impressed with the teacher behavior. Unattended class which means the teacher did not come is impossible to happen. I got full class in 8 weeks; you can imagine how they appreciate their job more than something else. When they could not attend the class, they usually had other teacher teach the class with detailed instruction about what are going to do. It’s amazing. Then they also very appreciate with student’s opinions and questions. Whether the opinion is good or bad, they always appreciate and respect to them. Moreover, process oriented is preferred than final result. I mean that the teacher paid attention to the learning process of their students. I have experiences in writing class when I got ‘C’ in my second essay due to wrong quotation. I was very shock at that time then I decided to tell my teacher that whether could or not I rewrite my essay to change my grade. She immediately replied, “Sure! Rewrite your essay and I will change your grade. Oh No, You Change your own grade.” I like the latter sentence when she tried to convince me that I will change my own grade. The teacher very appreciated the courage of their students to learn and learn.

The other wonderful thing I found in US is how they treat the people with disability. For instance, paralytic person can go everywhere he or she wants. All streets and public facilities have been completed with equipments that make them easy to access or use. Therefore, having such kind of disability doesn’t mean we should stay at home or go with companion. They can go alone without worrying disability problems.

What did two months of studying in the host country do to my language capacity?

Like white and clean paper, I started learning English in CESL with very limited knowledge and skill about English. I am studying in Industrial Engineering which makes it impossible to study and practice English every day. Every day is time to collect data, process them, and analyze to get a conclusion about one problem. With only courage in my heart and believing that no late to study English, I confidently tried to speak and asked questions to my teachers and my classmates. Being afraid to make mistake on pronouncing and using wrong words was not a problem anymore. Feels like a baby who has just been born, I felt free to do everything in order to improve my English. I got four subjects each day. They are Reading, Grammar, Writing, and Speaking.

For eight weeks, reading or vocabulary was the first class I got every single day. I tried my best to listen to what my teacher said. She started conversation by saying her name. Her name is Sharrol Brodersen. To be honest, in the first time it was very difficult for me to understand what she said. Like water falling down from high altitude, she speaks very fast. I think she is wonderful in teaching because she always gave her students joke in order to attract all attention. She never gave us opportunity to get bored because she could describe every single new word clearly not only the meaning but also the situation in what context a word is used. I got many new vocabularies from the book and from her. She always enlarged the topic by adding some slang words that popular in American conversation.

After having break time from 11.00 to 1.00 p.m., Mr. Gim Epstain is waiting for Grammar class. A thin and curly-blonde haired man is ready to guide us exploring the interesting thing of practicing grammar in daily communication. He always starts the classes by making short conversation with us relating to the topic that would be learnt. Some of us thought that Gim is our best teacher. I got better explanation about conditional sentences, adjective clause, noun clause, etc. To be honest; I don’t like grammar because I often did silly mistake in my quizzes. Instead of giving up, I tried to learn from each mistake I did. I believe I will get better and better and I have to get maximum grade for grammar class.
The most difficult subject in learning English is writing. Smiling and saying “Good efternoon Students, I am sorry to interrupt you”, was the signal Natally Reed used to make students paying attention to her. She is very strict in teaching; always made prompt in the first-five minute of class. However, my classmates and I must have got great improvement in writing skill especially academic writing. She had the students write three kinds of essay namely paragraph definition, comparison essay, and argumentative essay. Three criteria to be considered are the organization of the idea, quotation including paraphrasing and direct quote, punctuation, grammar, and work sites. The amazing of Ms. Reed is her ability to check and correct every single essay. She must find the How did she do that? Did she spend whole time to read all essay? Those are unanswerable questions among the students. She emphasized the explanation about direct quote and paraphrasing because it can jeopardize us regarding with plagiarism in US. Overall she is wonderful and dedicatory teacher.

Oral presentation is the most interesting; always make students frustrated in speaking class. Jenell Ray was the one who responsible of those feelings. A curly-haired woman who always comes to class in time emphasized her subject on listening and pronunciation. I always shoot her with many questions both how to pronounce and use a particular word. I really interested in her class. She also introduced a real story from 1957 era whose title is ‘October Sky’. She wanted us to learn the script and focus on pronunciations and also some idioms or expressions used in the movie. She conducted a short quiz in every chapter. We were demanded to be able to understand not only the meaning of words but also how to use them in right context. October sky is also included in the quiz which made us understand the context because she would play the part once, and she gave us new script with some blank words in it. We had to guess what word should be filled in the blank by listening to the movie in the second time. It was a real listening practice from Native American. From this class, I got a significant improvement in listening and pronunciation skill.

What are the pluses of the program?

Learning language especially English in the host country gives a lot of benefits for its participants. Students get not only theory, but also practical English in daily conversation including listening, speaking, writing, and watching how the Native people communicate each other. Students are also able learn American culture, visit local events, and have trip to some interesting places where they are study. Practice English every day may become the most important thing from studying English in the host country. We have no choice to say something in our native language during classes. The teachers speak English, classmates speak English, and everybody speaks English. We have no choice. It’s mean that our mouth, ears, eyes, gestures, and minds are learning English in the same time.

Visiting local events such as Gem Show, gas light theater, and renaissance festival gave different experiences to the students. We got additional information about American history, habits, and many other things about them. Our trip to Grand Canyon will become unforgettable moment in rest of our life. Many people in the world only are able to see the amazing creature and nature phenomenon in television. But, we had opportunity to go and step our own feet there. Oh My GOD. How lucky we are. We were not only able the beautiful scene of Grand Canyon, but it was also the first time for us, Indonesian group, to see snow. We played a lot like a bird has just free from a hundred year living in the cage. I miss my friends.

How can the program be improved?

I can say that this program is very good for students -who want to study English-. Otherwise, is bad. Obviously, my opinion is limited from Arizona perspective because other students from other state may have different answer. First, the stipend is good for students who live in Arizona especially for those who can make their own food, but more stipends will be better. Second, the housing, Sahara Apartment, is nice, giving the students easy-access to campus. Students can go to university with only 20 minutes on food or four minutes by Sahara Shuttle.

I have one suggestion that I am not really sure whether it is good or not. It’s about living with American partner, not exactly American, but at least student who didn’t speak our language. Why? That situation will force the student not to speak their local language. It will be very good because they practice their English every day. However, it is a risky thing. Many negatives things may be occur.

Finally, I think it will be better if the grantees are given the detail information about the amount money they got from US dept. of state; the stipend, transportations, apartments, etc. Because everyone is keep questioning about this issue. They want to know is it similar from Arizona to Oregon. I feel very lucky to be place in Arizona states because we have lower living cost and we can manage our money for our living cost. By giving this information, hopefully there won’t be misunderstanding about all.

Volunteering, January 31, 2009 Kamis, Sep 10 2009 

After I finished my class, my friend told me that there was a volunteer program on Friday February, 27 at 2 p.m. It was held at 816 E University Boulevard near Starbuck. Then I decided to join volunteer called BEN’S BELLS. They make Ben’s Bells which are awards that are given to people who provide exceptional community service. My friend and I came to the building at 2 p.m. and we met the officer of this activity. One of them showed us what we could do to join the program. After she explained to us about the program, she gave all of stuff needed to make a certain form or shape from clay. She told us that they want to make a bell for gift as appreciation. She told us that we could make a shape whatever we want and draw some picture in its surfaces.

I made many shapes like pyramids, cubes with smile face on its four sides, a cube with brick pattern in its side, and shape of mushroom. I like to express my creativity in making shape and drawing. I hope they will feel happy to see what I have made. There were some students from U of A and families also joined the program. They did the next step of making bell, namely painting the shapes. So, everyone was doing and focusing on his or her own job. In my opinion, the best life is when we can share and benefit the others.

Student Exchange Class with Students U of A, February 16 and 18, 2009 Kamis, Sep 10 2009 

I had student exchange program with students from University of Arizona three times, WRL class, SRL class, and grammar class. They are in the first year and didn’t have a major yet. They came to my class and we shared in pairs, which mean each of my classmate share with one or two students. This system is different from my university in Indonesia. We have to choose the major from the beginning of our study. But, in the third year, we have to choose our focus. I am studying Industrial and System Engineering in my country and I chose strategic management and human resource management.
I was so surprised when I asked them about English and they said that English in writing or academic is very difficult. I just thought that English is difficult even for native English. Why? May be they didn’t grammar like in writing when they were speaking. The second thing I know from them is most of student have at least sport activities. They think that sport is very important for everyone. It’s different from the culture in my university which only few of the students think that sport is important. I hope I will have a chance to share what I got about student culture with my friends in Indonesia. Hopefully it can encourage us to do sport, study hard, and be confident.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.