Dunia Kerja…Berhenti sejenak.. Kamis, Nov 5 2009 

wah..
Telah tiba saatnya masuk kedunia kerja…
Masih susah mengakses internet, karena medan kerja ku remote area…
hehehee

Tapi inilah adventure ku…
Harus absen ni dari blog untuk sementara waktu…

Cinta Bukanlah Disalurkan Lewat Pacaran Selasa, Okt 27 2009 

Jiwa Minggu, Okt 25 2009 

Jiwa yang tenang

Jiwa yang diam

Itu tampakmu dari luar


Meskipun,..

Engkau terkurung

Engkau berontak

Engkau Merangkak

Engkau Berteriak

Terperangkap dalam permainan dunia


Sstt..

Pasti ada jalan keluar

Pasti ada akhir dari ini semua

Kulihat setitik cahaya menantimu

Bisikku


Kebenaran itu

Apakah telah siap

Engkau memakainya

Jiwa

Menjadi lapang itu tanpa batas

Menjadi keras juga butuh waktu

Meningkatkan Kualitas Iman : Tiga Pesan Syeh Abdul Qodir Jailani r.a. Jumat, Okt 23 2009 

Pada posting ini saya akan mencoba menyampaikan ulang apa yang menjadi isi  dari khobah jumat pada hari jumat, 23 Oktober 2009. Topik yang diangkat adalah mengenai pesan yang disampaikan syeh Abdul Qodir Jailani r.a. kepada murid-muridnya. Pesan itu sangat singkat tetapi kaya akan makna bila kita renungi dalam aplikasi keimanan dalam kehidupan kita.

Beliau menyampaikan tiga hal yang kurang lebih kalau diterjemahkan artinya sebagai berikut (mohon maaf arabnya saya lupa):

  1. Jadilah kalian seekor binatang buas terhadap segala perintah Allah SWT dan RosulNya.
  2. Jadilah kalian seperti orang yang sakit terhadap larangan-larangan Allah SWT dan RosulNya
  3. Jadilah kalian seperti orang yang mati terhadap taqdir Allah SWT.

www.wildimages.biz

www.wildimages.biz

Pertama, mari kita meraba diri kita pribadi, apakah karakter tersebut telah ada dalam diri kita. Untuk kriteria pertama, apakah kita  sudah seperti binatang buas yang sangat lapar terhadap perintah Allah dan Rasul. Rasa lapar itu tentu saja membuat kita menjadikan ibadah sebagai makanan yang akan mengenyangkan rohani kita. Bila ada panggilan Allah berupa adzan, bagaimana sikap kita? “Ah, masih jam 12 siang, entar nunggu jam 2 aja.” atau mungkin menundah sholat isya karena jam 12 malam pun masih bisa sholat isya. Itu mungkin salah satu parameter yang mencerminkan sikap kita terhadap perintah Allah dan Rosul.

roghuzshy.files.wordpress.com

roghuzshy.files.wordpress.com

Kedua, apakah sikap kita sudah seperti orang sakit bila dihadapkan pada larangan Allah dan Rosul? (lagi…)

Bahasa Osing – Bahasa Asli Banyuwangi Jumat, Okt 23 2009 

Salam Semangat Luar Biasa!

sejawat.files.wordpress.com

sejawat.files.wordpress.com

Berbicara tentang bahasa, may be I am the one who love learning language so much. For me, language is amazing and have its uniqueness which differentiates from one to another. Padahal aku lulusan Industrial Engineering yang banyak bicara masalah bagaimana pemecahan suatu problem dalam dunia industri dengan optimasi, simulasi atau sistem dinamik. Hehe, tapi itulah saya. Saya merasa bersyukur sekali karena saya terlahir di Banyuwangi, daerah legendaris yang kaya akan budaya dan pantai yang indah. Sebut saja pantai plengkung atau G Land yang merupakan pantai dengan ombak tertinggi kedua setelah Hawai.

One thing which makes me feel lucky is I know the native language in Banyuwangi which called Osing or Using. You know, my native is Javanese because both grandpa from my mom and dad are originally from central java. Little history why my grandpa moved from Solo –Central Java to Banyuwangi was the family rule used in Solo. After the father dead, all the family’s property belongs to the eldest. The rest children get nothing and have to make money for their selves.

Bahasa ini sangat unik saya menyebutnya, karena dari segi pengucapan, sangat berbeda dengan bahasa jawa yang setiap hari saya gunakan. Mereka punya tone atau semacam lagu tertentu dalam pengucapan bahasa mereka dan sedikit agak sengau. That why it’s very difficult to imitate their accent. Hahahha.. susah banget. I can understand pretty much when they speak, but I can’t use the language. Even if I decided to do it, my accent is still Javanese. Hfff…. I started to know Osing when I was in the junior high school where it is located in the area whose people use Osing as their native language. But, it was so much fun. The they pronounce is interesting with a certain tone. I miss it so much. I have downloaded some Kendang Kempul ( Kind of Song which use Osing) just to be able to hear this language. But, I can’t the conversation. Bagi yang punya rekaman orang bicara osing, saya mau dong.

I don’t know exactly Osing itu kurang tahu termasuk bahasa atau Cuma dialeg, ada yang mengklasifikasikan sebagai ragam bahasa sendiri, ada pula yang menyebutnya sebagai dialeg saja dengan alasan kalau kita orang jawa  masih bisa memahami, maka itu termasuk ragam bahasa jawa Cuma dialegnya aja yang berbeda. The people who use the language are called laros (Lare Osing) or Wong Osing. They spread out in some sub districts such as Banyuwangi, Kabat, Rogojampi, Glagah, Kalipuro, Srono, Cluring, Giri, Gambiran, Singojuruh, Genteng, Licin.

“ Sebutan OSING sebenarnya berasal dari orang luar Banyuwangi (orang kulonan) terhadap kultur etnik Banyuwangi. Secara etimologis kata OSING dapat diartikan dengan kata ’TIDAK’ dalam Bahasa Indonesia atau ORA dalam Bahasa Jawa. Dalam konteks kebahasaan Pigeaud (1929) berpendapat bahwa, kata OSING bermakna ketertutupan penduduk asli Banyuwangi terhadap penduduk pendatang, atau dapat juga diartikan sebagai penolakan penduduk asli Banyuwangi dalam menerima dan hidup bersama dengan para pendatang dari luar Banyuwangi. (elvin) 1

Dalam blognya, Elvin juga mengatakan  ada pemeo yang berkembang di kalangan generasi muda, bahwa Bahasa Banyuwangi dianggap ’ndeso’ bila dibandingkan dengan ’Bahasa Jakarte’. Meraka merasa lebih bangga bila dapat berkata :

’Eh.. jumpe lagi ama gue, bang…!!!’ daripada harus berkata :

’Eh.. kecaruk maning ambi ison, kang …!!!

If you guys wanna know little bit about this language, Here are some examples of Osing. Remember! Don’t be confuse, haha J, if you know Javanese, it  will help you much. Saya mengutip artikel menarik yang menyajikan ulasan mengenai bahasa Osing (Rifuki no monogatari)2.

1. Pada akhiran kalimat, huruf hidup akan terbaca seperti in

(u) menjadi (au)

(i) menjadi (ai)

(e) menjadi (ae)

Contoh dalah katanya seperti ini:

Sewu (seribu) akan dibaca SewAu

Iki (ini) akan dibaca IkAi, Siji (satu) dibaca SijAi

sore dhadi (sorAe)

2. Ini giliran bunyi-bunyi sengau yang membuat kata-kata punya tone atau lagu tertentu, dan kelihatan kalau ini menghindari pengucapan kata-kata berat. Kata-kata dengan huruf bA, gA, dA, jA, nA, mA,  rA, lA, akan mendapat sisipan y diantara suku kata tersebut. Hal ini menyebabkan kata menjadi tidak flat/ datar, tapi punya lagu atau seperti mlěsět suaranya. Ini contoh dalam katanya:

Ulan(Ulyan), Dadane(dyadane), mega(megya), udan(udyan), bathin (byathin), njaluk(njaluk), banyu(Byanyu), umah(umyah), Bapak(byapak), dadi(dyadi), kembang(kembyang), munggah(munggyah), bareng(byareng), kesuwen(kesuwyen), siryan, tuwyek(tua), pikiryan(pikiran), gelyang(gelang), jyanji, Sepuryane(maaf), gyawe, dll.

Unik, aneh, atau gimana??,….hahahahha (lagi…)

Wanita diciptakan dengan keindahan dari ujung rambut sampai ujung kaki, Mengapa harus ditutupi ???????? Kamis, Okt 22 2009 

NA

NA

Apakah pernah mendengar pendapat seperti itu? Tentu saja kita merasa aneh mendengar perkataan seperti itu. Itu adalah pendapat dari sebagian mahasiswi yang ditanya tentang pemakaian jilbab bagi kaum wanita. Alasan mengapa mereka memakai pakaian yang merangsang sahwat ialah karena mereka merasa bahwa seluruh bagian dari dirinya adalah keindahan yang diciptakan tuhan untuk dirinya. Untuk itu mengapa harus ditutup?

Mereka berpikir dengan berpakaian yang merangsang akan lebih dihargai dan dianggap lebih dari yang lain. Padahal sesungguhnya dengan menampakkan aurat didepan umum akan menunjukkan bahwa wanita tersebut bermoral rendah. (lagi…)

ETOS, Pencetak Generasi Mandiri Kamis, Okt 22 2009 

Jangan biarkan bunga layu sebelum berkembang”, kalimat tersebut yang selalu terngiang saat melihat brosur etos di asrama mahasiswa etos Surabaya. Kalimat tersebut saya lihat pada saat saya mendaftar beastudi ini ke asrama mahasiswa etos Surabaya. Jargon itu sangat tepat sekali dengan tugas mulia pengelola BeaStudi Etos yang memberikan kesempatan pada siswa lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan ke dunia perkuliahan padahal mereka menyimpan berjuta potensi yang siap untuk mengrebrak dan membawa negara ini kearah yang lebih baik.

Luar biasa dapat menjadi keluarga beastudi etos dimana saya merasa terbangun baik mental maupun spiritual, berkumpul dengan orang-orang berpotensi tinggi, serta lingkungan asrama yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga rasa untuk berkompetisi menjadi lebih baik selalu terpacu. Peningkatan kualitas dan manajemen diri pasti dirasakan oleh para Etoser(penerima beastudi Etos). Suasana diskusi untuk memecahkan suatu permasalahan sangat dikembangkan di sini.

Latar belakang dari keluarga kurang mampu, ‘ndeso’, (lagi…)

Halaman Berikutnya »