Salam Semangat Luar Biasa!

sejawat.files.wordpress.com
Berbicara tentang bahasa, may be I am the one who love learning language so much. For me, language is amazing and have its uniqueness which differentiates from one to another. Padahal aku lulusan Industrial Engineering yang banyak bicara masalah bagaimana pemecahan suatu problem dalam dunia industri dengan optimasi, simulasi atau sistem dinamik. Hehe, tapi itulah saya. Saya merasa bersyukur sekali karena saya terlahir di Banyuwangi, daerah legendaris yang kaya akan budaya dan pantai yang indah. Sebut saja pantai plengkung atau G Land yang merupakan pantai dengan ombak tertinggi kedua setelah Hawai.
One thing which makes me feel lucky is I know the native language in Banyuwangi which called Osing or Using. You know, my native is Javanese because both grandpa from my mom and dad are originally from central java. Little history why my grandpa moved from Solo –Central Java to Banyuwangi was the family rule used in Solo. After the father dead, all the family’s property belongs to the eldest. The rest children get nothing and have to make money for their selves.
Bahasa ini sangat unik saya menyebutnya, karena dari segi pengucapan, sangat berbeda dengan bahasa jawa yang setiap hari saya gunakan. Mereka punya tone atau semacam lagu tertentu dalam pengucapan bahasa mereka dan sedikit agak sengau. That why it’s very difficult to imitate their accent. Hahahha.. susah banget. I can understand pretty much when they speak, but I can’t use the language. Even if I decided to do it, my accent is still Javanese. Hfff…. I started to know Osing when I was in the junior high school where it is located in the area whose people use Osing as their native language. But, it was so much fun. The they pronounce is interesting with a certain tone. I miss it so much. I have downloaded some Kendang Kempul ( Kind of Song which use Osing) just to be able to hear this language. But, I can’t the conversation. Bagi yang punya rekaman orang bicara osing, saya mau dong.
I don’t know exactly Osing itu kurang tahu termasuk bahasa atau Cuma dialeg, ada yang mengklasifikasikan sebagai ragam bahasa sendiri, ada pula yang menyebutnya sebagai dialeg saja dengan alasan kalau kita orang jawa masih bisa memahami, maka itu termasuk ragam bahasa jawa Cuma dialegnya aja yang berbeda. The people who use the language are called laros (Lare Osing) or Wong Osing. They spread out in some sub districts such as Banyuwangi, Kabat, Rogojampi, Glagah, Kalipuro, Srono, Cluring, Giri, Gambiran, Singojuruh, Genteng, Licin.
“ Sebutan OSING sebenarnya berasal dari orang luar Banyuwangi (orang kulonan) terhadap kultur etnik Banyuwangi. Secara etimologis kata OSING dapat diartikan dengan kata ’TIDAK’ dalam Bahasa Indonesia atau ORA dalam Bahasa Jawa. Dalam konteks kebahasaan Pigeaud (1929) berpendapat bahwa, kata OSING bermakna ketertutupan penduduk asli Banyuwangi terhadap penduduk pendatang, atau dapat juga diartikan sebagai penolakan penduduk asli Banyuwangi dalam menerima dan hidup bersama dengan para pendatang dari luar Banyuwangi. (elvin) 1”
Dalam blognya, Elvin juga mengatakan ada pemeo yang berkembang di kalangan generasi muda, bahwa Bahasa Banyuwangi dianggap ’ndeso’ bila dibandingkan dengan ’Bahasa Jakarte’. Meraka merasa lebih bangga bila dapat berkata :
’Eh.. jumpe lagi ama gue, bang…!!!’ daripada harus berkata :
’Eh.. kecaruk maning ambi ison, kang …!!!’
If you guys wanna know little bit about this language, Here are some examples of Osing. Remember! Don’t be confuse, haha J, if you know Javanese, it will help you much. Saya mengutip artikel menarik yang menyajikan ulasan mengenai bahasa Osing (Rifuki no monogatari)2.
1. Pada akhiran kalimat, huruf hidup akan terbaca seperti in
(u) menjadi (au)
(i) menjadi (ai)
(e) menjadi (ae)
Contoh dalah katanya seperti ini:
Sewu (seribu) akan dibaca SewAu
Iki (ini) akan dibaca IkAi, Siji (satu) dibaca SijAi
sore dhadi (sorAe)
2. Ini giliran bunyi-bunyi sengau yang membuat kata-kata punya tone atau lagu tertentu, dan kelihatan kalau ini menghindari pengucapan kata-kata berat. Kata-kata dengan huruf bA, gA, dA, jA, nA, mA, rA, lA, akan mendapat sisipan y diantara suku kata tersebut. Hal ini menyebabkan kata menjadi tidak flat/ datar, tapi punya lagu atau seperti mlěsět suaranya. Ini contoh dalam katanya:
Ulan(Ulyan), Dadane(dyadane), mega(megya), udan(udyan), bathin (byathin), njaluk(njaluk), banyu(Byanyu), umah(umyah), Bapak(byapak), dadi(dyadi), kembang(kembyang), munggah(munggyah), bareng(byareng), kesuwen(kesuwyen), siryan, tuwyek(tua), pikiryan(pikiran), gelyang(gelang), jyanji, Sepuryane(maaf), gyawe, dll.
Unik, aneh, atau gimana??,….hahahahha (lagi…)
27 Tanggapan »